FITRI

FITRI
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2014

Kekerasan: Cara Oknum Guru Mendidik



Oleh: Agil Khair
Bagaimana jika seorang Guru terkena kasus yang menjadi sorotan publik? Sebenarnya kasus kasus lama yang melibatkan oknum pendidik sangat banyak di Indonesia tercinta ini. kasus terbaru soal cara mendidik yang sadis dilakukan Oknum guru kelas VI di SDN Jatimulya VII, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, berinisial RS, diduga dengan sengaja telah memukul murid satu kelas sebanyak 39 anak. Pemukulan ini dilakukan dengan menggunakan penggaris besi, gara-gara para murid tidak hafal isi Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. Kejadian ini kontan membuat berbagai pihak mengecam perilaku oknum guru tersebut. Seorang guru harusnya sabar dalam menyampaikan dan mencerdaskan siswanya justru bertindak emosional, destruktif dan anarkis.


Senin, 16 Desember 2013

Guruku Teladanku

Pendidikan adalah  investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai tinggi bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Oleh sebab itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Begitu juga Indonesia menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama. Hal ini dapat dilihat dari isi pembukaan UUD 1945 alenia IV yang menegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Alenia kedua lirik lagu berjudul “Hymne Guru” ciptaan Surtono menggambarkan betapa besar jasa seorang guru. Guru mempunyai peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi terdepan dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti terlibat dalam agenda pembicaraan.
Guru dengan sejumlah buku yang terselip di pinggang datang ke sekolah untuk belajar dengan peserta didik yang sudah menantinya untuk diberikan pelajaran. Peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan dan siap untuk menerimanya dari guru. Guru dan peserta didik adalah “dwitunggal” yang kokoh bersatu. Kesatuan jiwa guru dengan peserta didik tidak dapat dipisahkan, tidak pula dapat dicerai-beraikan. Guru tetap guru dan peserta didik tetaplah peserta didik. Tidak ada istilah “bekas guru” dan “bekas peserta didik”